PADA AKHIR TAHUN 2010, Lampung masih mencatatkan dirinya sebagai wilayah yang memiliki produksi udang terbesar di Indonesia. Bahkan Lampung juga masuk dalam kategori wilayah yang banyak menghasilkan produk perikanan budidaya. Dari total produksi udang nasional tahun 2009 yang mencapai 348.100 ton, sebanyak 40% dihasilan dari wilayah Lampung. Begitu pula dengan produk ikan lainnya seperti kerapu dan lain-lain.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan komoditas udang masuk dalam lima produk unggulan ekspor non migas Indonesia. Selain udang, Lampung juga memiliki potensi besar untuk pegembangan budidaya ikan kerapu. Pada tahun 2007 produksi ikan kerapu dari sejumlah sentra produksi di Lampung baru 83,3 ton. Jumlah itu meningkat menjadi 90 ton pada tahun 2008, dan melonjak hingga 294,59 ton pada tahun 2009 lalu.
Adapun kabupaten yang menjadi sentra budi daya kerapu di Lampung: Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran. Di Pesawaran, sentra kerapu terdapat di Pulau Puhawang dan Ringgung, Kecamatan Punduh Pidada. Sementara itu, di Lampung Selatan, sentra kerapu terdapat di Tanjung Putus. Lalu, yang menjadi sentra utama kerapu adalah di Ringgung
Umumnya jenis kerapu yang dibudidayakan di Teluk Lampung adalah kerapu tikus atau biasa disebut juga kerapu bebek, kerapu macan dan kerapu lumpur. Dari ketiga jenis tersebut, kerapu tikus yang paling dibudidayakan banyak karena pertumbuhannya paling bagus di perairan Teluk Lampung. Dan pasar kerapu dari Lampung 100% diekspor ke Singapura, Cina, Taiwan, dan Hong Kong.
Menujukkan Persamaan Hak Kedudukan yang Sama
Sayang, potensi besar ini belum dikelola dengan baik meski pemkab setempat memberikan pelatihan kepada pembudidaya ikan kerapu. Hal ini bisa jadi karena keterbatasan modal. Bayangkan saja, dahulu tahun 2002-2006, untuk membuat satu keramba kerapu jenis bebek, berisi 1.000 bibit, hingga panen, bisa menghabiskan dana Rp 55 juta. Saat itu, harga pakan ikan Rp 1.000 per kilogram. Namun, besarnya modal yang dikeluarkan, sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Karena sifatnya usahanya masih individual inilah, maka perlu pengembangan dengan pola kemitraan (pembudidaya dan pengusaha) yang mencakup: produksi, penanganan hasil pasca panen, pemasaran, organisasi kemitraan, aspek finansial, pembinaan dan penyuluhan, faktor-faktor penghambat dan pemecahannya, serta model kerjasama inti-plasma.
Pola kemitraan yang baik (ideal) tentu saja adalah hubungan kerja yang menujukkan persamaan hak kedudukan yang sama. Saling menguntungkan dan saling bahu-membahu. Sehingga dengan demikian tidak ada yang merasa paling superior, paling dominan, dan lain-lain.
Karena itu, jangan sekali-kali kedua belah pihak yang bermitra melanggar perjanjian kerjasama. Pasalnya, hal itu justru akan merugikan kedua belah. Tapi, sebaiknya sebelum melakukan pola kemitraan. Kedua belah pihak terlebih dahulu menyamakan persepsi mengenai apa itu pola kemitraan. Dengan demikian, diharapkan kedepan hal-hal yang tidak diinginkan tidak muncul.
Harus diakui bahwa pola kemitraan sangat menguntungan pembudidaya ikan. Selain untuk meningkatkan produksi dan pendapatan, tapi juga menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pembudidaya ikan pedesaan. Apalagi selama ini terlihat bahwa pembudidaya ikan selalu tergantung bantuan dari pemerintah baik itu pemda maupun pusat.
Pola kemitraan setidaknya bisa menanggulangi kemiskinan. Ini mengingat 30 juta rakyat miskin di Indonesia, dan 30 persen di antaranya merupakan masyarakat kelautan dan perikanan seperti nelayan, pembudidaya, dan pengolah ikan. Dengan pola kemitraan diharapkan masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dapat hidup sejahtera dan pertumbuhan wirausaha di bidang perikanan budidaya di pedesaan juga dapat terdorong. (*)
Rabu, 14 Desember 2011
menggenjot produksi budidaya perikana
BERDASARKAN data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), realisasi produksi perikanan budidaya pada tahun 2009 adalah 4,7 juta ton.
Pada tahun 2010, targetkan produksi ikan sebesar 5,4 juta ton, ternyata dapat direalisasikan hingga 6,2 juta ton. Adapun target pada 2011 yang ditetapkan oleh KKP adalah sebesar 6,8 juta ton.
Dengan adanya peningkatan produksi perikanan budidaya rata rata sebesar 27 persen per tahun. Maka sektor ini menjadi sektor utama menggeser perikanan tangkap.
Dan inilah yang diharapkan oleh Kementerian KKP. Karena itulah kemudian sejak mulai 2010, anggaran yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan fokus kepada sektor budidaya.
Selain menargetkan produksi ikan sebesar 6,8 juta ton pada 2011, Kementerian KKP juga menargetkan Indonesia akan menjadi negara penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015. Karena itu, peningkatan akan difokuskan pada beberapa jenis budidaya.
Produksi perikanan budidaya itu akan dikerek sebesar 221% dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton untuk jenis rumput laut, patin, lele, nila, gurame, kakap, ikan kerapu, ikan mas, bandeng.
Produksi ikan patin akan naik secara total akan naik hingga 1.420% hingga 2014, dengan rata rata kenaikan tiap tahun 70%.Untuk lele, tahun 2010 mencapai 200.000 ton, hingga tahun 2014 kenaikannya bisa mencapai 450%.
Produksi Perikanan Naik 13,60%
Pada tahun 2000, produksi perikanan Provinsi Lampung, sebagian besar berasal dari kegiatan usaha penangkapan (85%) dan kegiatan usaha budidaya (15%). Ekspor hasil perikanan Provinsi Lampung, sebagian besar berasal dari hasil budidaya, khususnya udang, dimana pada tahun 2006, nilai ekspor hasil perikanan ini sebesar US$ 44,844 juta yang merupakan 21 % dari total nilai ekspor non migas Provinsi Lampung.
Lalu, pada 2010 produksi perikanan tangkap laut Lampung sebesar 164.551 ton lebih atau naik 13,60% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2009, produksi perikanan laut Lampung hanya 144.856 ton. Produksi perikanan laut itu berasal dari beberapa kabupaten/kota di Lampung seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Barat, Bandar Lampung, Tulangbawang, Pesawaran, Lampung Selatan dan lain lain.
Produksi ikan terbanyak pada periode itu terdapat di Kabupaten Lampung Timur dengan 39.941 ton, disusul Lampung Selatan 26.000 ton lebih dan Tanggamus sebesar 20.659 ton.
Sementara produksi perikanan tangkap umum di Lampung pada periode yang sama yakni 8.530 ton atau turun sekitar 42% bila dibandingkan tahun sebelumnya dengan produksi 14.000 ton lebih.
Produksi perikanan tangkap Lampung selama 2010 sebanyak 132.333,52 ton, turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 173.082,25 ton.
Lampung Miliki Potensi Cukup Besar
Untuk sumber daya perikanan laut, Lampung memiliki potensi masih cukup besar, dimana perairan laut Lampung dibagi kedalam tiga wilayah: Pantai Timur ( Laut Jawa ; Selat sunda (Teluk Lampung dan Teluk Semangka ); Pantai Barat.
Potensi ikan di perairan barat, sebesar 85,379 ton pertahun untuk areal penangkapan sampai 30 mil, sedangkan sampai areal ZEE sebesar 97,845 ton pertahun, maka potensi ikan tangkap di pantai barat sebesar 182,864 ton per tahun. Pada perairan pantai timur, potensinya sebesa 11,800 ton pertahun dengan didominasi oleh jenis ikan demesal, sedangkan potensi ikan tangkap diselat sunda sebesar 97,752 ton pertahun dengan di dominasi oleh jenis ikan karang.
Untuk budidaya perikanan laut, potensi lahan yang ada luasnya kurang lebih 10,600 Ha yang menyebar pada Teluk Lampung, Teluk Semangka, Pantai Timur Lampung dan Barat Lampung. Dari potensi lahan yang ada, dialokasikan untuk budidaya ikan kerapu seluas 681 Ha, mutiara seluas 3,999 Ha, rumput laut 1,325 Ha dan kerang kerangan seluas 4,596 Ha.
Sedangkan lahan yang potensial untuk budidaya air payau, baik untuk kegiatan pembesaran ikan / udang maupun pembenihan, luasnya 61,200 Ha. Potensi tersebut menyebar di Pantai Timur Lampung yang membentang dari utara sampai selatan, seluas 52,500 Ha, Teluk Lampung seluas 700 Ha, Teluk Semangka 2,000 Ha dan pantai barat seluas 5,00 Ha. Dan komoditi yang potensial untuk di kembangkan secara budidaya adalah; udang, ikan bandeng, ikan kakap dan ikan kerapu.
Potensi Budidaya Ikan
Lampung sebenarnya memiliki yang potensial untuk budidaya ikan tawar. Ini bisa dilihat makin meningkatnya produksi ikan air tawar di Kabupaten Lampung Selatan yang mencapai rata-rata 275.000 ton per tahun. Produksi tersebut berasal dari sekitar 1.150 hektare lahan budi daya yang tersebar di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan. 1.150 hektare tersebut merupakan lahan yang telah dimanfaatkan, sedangkan luas areal yang belum dimanfaat mencapai 11.000 hektare atau sekitar 90 persen.
Lokasi budi daya mencakup Kecamatan Palas, Penengahan, Bakauheni, Waysulan, Rajabasa, Natar, dan Tanjungbintang, sedangkan daerah lainnya berskala lebih kecil dan skala rumah tangga. Adapun jenis ikan yang dihasilkan bervariasi seperti lele, gurami, patin, mas, nila, belut, dan ikan hias.
Begitu juga Lampung Tengah, produktvitas dari jenis usaha budi daya perikanan terus meningkat. Tahun 2010 lalu, produksi ikan mencapai 45.728 ton.
Perinciannya, ikan mas sebanyak 2.693 ton, ikan nila 3.955 ton, lalu ikan patin 19.565 ton, dan ikan bawal 1.270 ton, serta gurame 18.245 ton. Belum lagi di Lampung Barat. Berdasarkan data, kawasan danau Ranau mampu menghasikan ikan sekitar 72 ton lebih per tahun. (*)
Pada tahun 2010, targetkan produksi ikan sebesar 5,4 juta ton, ternyata dapat direalisasikan hingga 6,2 juta ton. Adapun target pada 2011 yang ditetapkan oleh KKP adalah sebesar 6,8 juta ton.
Dengan adanya peningkatan produksi perikanan budidaya rata rata sebesar 27 persen per tahun. Maka sektor ini menjadi sektor utama menggeser perikanan tangkap.
Dan inilah yang diharapkan oleh Kementerian KKP. Karena itulah kemudian sejak mulai 2010, anggaran yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan fokus kepada sektor budidaya.
Selain menargetkan produksi ikan sebesar 6,8 juta ton pada 2011, Kementerian KKP juga menargetkan Indonesia akan menjadi negara penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015. Karena itu, peningkatan akan difokuskan pada beberapa jenis budidaya.
Produksi perikanan budidaya itu akan dikerek sebesar 221% dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton untuk jenis rumput laut, patin, lele, nila, gurame, kakap, ikan kerapu, ikan mas, bandeng.
Produksi ikan patin akan naik secara total akan naik hingga 1.420% hingga 2014, dengan rata rata kenaikan tiap tahun 70%.Untuk lele, tahun 2010 mencapai 200.000 ton, hingga tahun 2014 kenaikannya bisa mencapai 450%.
Produksi Perikanan Naik 13,60%
Pada tahun 2000, produksi perikanan Provinsi Lampung, sebagian besar berasal dari kegiatan usaha penangkapan (85%) dan kegiatan usaha budidaya (15%). Ekspor hasil perikanan Provinsi Lampung, sebagian besar berasal dari hasil budidaya, khususnya udang, dimana pada tahun 2006, nilai ekspor hasil perikanan ini sebesar US$ 44,844 juta yang merupakan 21 % dari total nilai ekspor non migas Provinsi Lampung.
Lalu, pada 2010 produksi perikanan tangkap laut Lampung sebesar 164.551 ton lebih atau naik 13,60% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2009, produksi perikanan laut Lampung hanya 144.856 ton. Produksi perikanan laut itu berasal dari beberapa kabupaten/kota di Lampung seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Barat, Bandar Lampung, Tulangbawang, Pesawaran, Lampung Selatan dan lain lain.
Produksi ikan terbanyak pada periode itu terdapat di Kabupaten Lampung Timur dengan 39.941 ton, disusul Lampung Selatan 26.000 ton lebih dan Tanggamus sebesar 20.659 ton.
Sementara produksi perikanan tangkap umum di Lampung pada periode yang sama yakni 8.530 ton atau turun sekitar 42% bila dibandingkan tahun sebelumnya dengan produksi 14.000 ton lebih.
Produksi perikanan tangkap Lampung selama 2010 sebanyak 132.333,52 ton, turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 173.082,25 ton.
Lampung Miliki Potensi Cukup Besar
Untuk sumber daya perikanan laut, Lampung memiliki potensi masih cukup besar, dimana perairan laut Lampung dibagi kedalam tiga wilayah: Pantai Timur ( Laut Jawa ; Selat sunda (Teluk Lampung dan Teluk Semangka ); Pantai Barat.
Potensi ikan di perairan barat, sebesar 85,379 ton pertahun untuk areal penangkapan sampai 30 mil, sedangkan sampai areal ZEE sebesar 97,845 ton pertahun, maka potensi ikan tangkap di pantai barat sebesar 182,864 ton per tahun. Pada perairan pantai timur, potensinya sebesa 11,800 ton pertahun dengan didominasi oleh jenis ikan demesal, sedangkan potensi ikan tangkap diselat sunda sebesar 97,752 ton pertahun dengan di dominasi oleh jenis ikan karang.
Untuk budidaya perikanan laut, potensi lahan yang ada luasnya kurang lebih 10,600 Ha yang menyebar pada Teluk Lampung, Teluk Semangka, Pantai Timur Lampung dan Barat Lampung. Dari potensi lahan yang ada, dialokasikan untuk budidaya ikan kerapu seluas 681 Ha, mutiara seluas 3,999 Ha, rumput laut 1,325 Ha dan kerang kerangan seluas 4,596 Ha.
Sedangkan lahan yang potensial untuk budidaya air payau, baik untuk kegiatan pembesaran ikan / udang maupun pembenihan, luasnya 61,200 Ha. Potensi tersebut menyebar di Pantai Timur Lampung yang membentang dari utara sampai selatan, seluas 52,500 Ha, Teluk Lampung seluas 700 Ha, Teluk Semangka 2,000 Ha dan pantai barat seluas 5,00 Ha. Dan komoditi yang potensial untuk di kembangkan secara budidaya adalah; udang, ikan bandeng, ikan kakap dan ikan kerapu.
Potensi Budidaya Ikan
Lampung sebenarnya memiliki yang potensial untuk budidaya ikan tawar. Ini bisa dilihat makin meningkatnya produksi ikan air tawar di Kabupaten Lampung Selatan yang mencapai rata-rata 275.000 ton per tahun. Produksi tersebut berasal dari sekitar 1.150 hektare lahan budi daya yang tersebar di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan. 1.150 hektare tersebut merupakan lahan yang telah dimanfaatkan, sedangkan luas areal yang belum dimanfaat mencapai 11.000 hektare atau sekitar 90 persen.
Lokasi budi daya mencakup Kecamatan Palas, Penengahan, Bakauheni, Waysulan, Rajabasa, Natar, dan Tanjungbintang, sedangkan daerah lainnya berskala lebih kecil dan skala rumah tangga. Adapun jenis ikan yang dihasilkan bervariasi seperti lele, gurami, patin, mas, nila, belut, dan ikan hias.
Begitu juga Lampung Tengah, produktvitas dari jenis usaha budi daya perikanan terus meningkat. Tahun 2010 lalu, produksi ikan mencapai 45.728 ton.
Perinciannya, ikan mas sebanyak 2.693 ton, ikan nila 3.955 ton, lalu ikan patin 19.565 ton, dan ikan bawal 1.270 ton, serta gurame 18.245 ton. Belum lagi di Lampung Barat. Berdasarkan data, kawasan danau Ranau mampu menghasikan ikan sekitar 72 ton lebih per tahun. (*)
Categories
perikanan
ikan laut
Ikan Laut Menghilang
AKIBAT cuaca buruk dan gelombang laut tinggi, pasokan ikan laut ke pasar tradisional mulai surut dan terancam langka. Hal itu membuat harga ikan laut di pasaran meroket.
Menurut H. Djedje Alamsyah, pedagang ikan di Pasar Kosambi Bandung, Selasa (13/12), saat ini pasokan ikan laut mulai berkurang dan langka. Cuaca buruk dan gelombang tinggi membuat para nelayan kesulitan mencari ikan.
"Jenis ikan laut yang pasokannya tersendat, yaitu tenggiri, tongkol, udang, dan cumi. Bahkan saat ini pasokan ikan laut cenderung berkurang hingga 40 persen," katanya.
Akibatnya, lanjut Djedje, harga ikan laut pun melonjak dengan rata-rata kenaikan 30 persen. Ikan tenggiri misalnya yang biasanya Rp 40 ribu/kg menjadi Rp 55 ribu/kg. Ikan tongkol dan ikan kembung yang tadinya Rp 20 ribu menjadi Rp 26 ribu/kg. Bahkan untuk harga cumi mencapai Rp 40.000, padahal sebelumnya Rp 35.000/kg dan udang dari Rpp 60.000 menjadi Rp 70.000/kg.
Kondisi gelombang laut yang tinggi membuat para nelayan kesulitan untuk melaut. Kondisi ini diperkirakan akan terjadi hingga Maret. Sehingga tidak menutup kemungkinan persediaan ikan laut pun akan menipis dan terancam langka.
"Ini sulit diprediksi, apalagi dengan cuaca buruk seperti sekarang. Tentunya kalau cuaca terus begini ikan laut akan langka di pasaran, karena tidak ada nelayan yang menangkap ikan," katanya.
Dipaparkan Djedje, kenaikan harga ikan laut saat ini dikeluhkan para konsumen. Mereka juga mengeluhkan kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga mengurangi pembelian.
"Kondisi ini diperparah dengan permintaan yang cenderung menurun, sehingga para pedagang bingung sendiri. Lihat saja, udang yang biasanya pukul 22.00 WIB terjual sebanyak 25 kg, sekarang masih banyak," katanya.
Selain itu, penurunan permintaan pun dipengaruhhi banyaknya supermarket. Tidak sedikit konsumen yang lebih memilih berbelanja ke supermarket.
"Kita berharap pemerintah tidak memberikan kemudahan begitu saja kepada para pengusaha besar untuk mendirikan supermarket, karena imbasnya dirasakan pedagang pasar tradisional yang kemampuan modalnya terbatas," katanya. (agus/"GM")**
AKIBAT cuaca buruk dan gelombang laut tinggi, pasokan ikan laut ke pasar tradisional mulai surut dan terancam langka. Hal itu membuat harga ikan laut di pasaran meroket.
Menurut H. Djedje Alamsyah, pedagang ikan di Pasar Kosambi Bandung, Selasa (13/12), saat ini pasokan ikan laut mulai berkurang dan langka. Cuaca buruk dan gelombang tinggi membuat para nelayan kesulitan mencari ikan.
"Jenis ikan laut yang pasokannya tersendat, yaitu tenggiri, tongkol, udang, dan cumi. Bahkan saat ini pasokan ikan laut cenderung berkurang hingga 40 persen," katanya.
Akibatnya, lanjut Djedje, harga ikan laut pun melonjak dengan rata-rata kenaikan 30 persen. Ikan tenggiri misalnya yang biasanya Rp 40 ribu/kg menjadi Rp 55 ribu/kg. Ikan tongkol dan ikan kembung yang tadinya Rp 20 ribu menjadi Rp 26 ribu/kg. Bahkan untuk harga cumi mencapai Rp 40.000, padahal sebelumnya Rp 35.000/kg dan udang dari Rpp 60.000 menjadi Rp 70.000/kg.
Kondisi gelombang laut yang tinggi membuat para nelayan kesulitan untuk melaut. Kondisi ini diperkirakan akan terjadi hingga Maret. Sehingga tidak menutup kemungkinan persediaan ikan laut pun akan menipis dan terancam langka.
"Ini sulit diprediksi, apalagi dengan cuaca buruk seperti sekarang. Tentunya kalau cuaca terus begini ikan laut akan langka di pasaran, karena tidak ada nelayan yang menangkap ikan," katanya.
Dipaparkan Djedje, kenaikan harga ikan laut saat ini dikeluhkan para konsumen. Mereka juga mengeluhkan kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga mengurangi pembelian.
"Kondisi ini diperparah dengan permintaan yang cenderung menurun, sehingga para pedagang bingung sendiri. Lihat saja, udang yang biasanya pukul 22.00 WIB terjual sebanyak 25 kg, sekarang masih banyak," katanya.
Selain itu, penurunan permintaan pun dipengaruhhi banyaknya supermarket. Tidak sedikit konsumen yang lebih memilih berbelanja ke supermarket.
"Kita berharap pemerintah tidak memberikan kemudahan begitu saja kepada para pengusaha besar untuk mendirikan supermarket, karena imbasnya dirasakan pedagang pasar tradisional yang kemampuan modalnya terbatas," katanya. (agus/"GM")**
Categories
perikanan
Pengelolahan sumberdaya ikan
Pengelolaan sumberdaya ikan
Pengelolaan sumberdaya ikan adalah semua upaya termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan yang bertujuan agar sumberdaya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati perairan yang terus menerus.[4]
[sunting]Penangkapan ikan
Penangkapan ikan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkannya.[5] Usaha perikanan yang bekerja di bidang penangkapan tercakup dalam kegiatan perikanan tangkap (capture fishery).
[sunting]Pembudidayaan ikan
Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan/atau membiakkan ikan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.[6] Usaha perikanan yang berupa produksi hasil perikanan melalui budidaya dikenal sebagai perikanan budidaya atau budidaya perairan (aquaculture).
[sunting]Referensi
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Castro, P. and M. Huber. (2003). Marine Biology. 4th ed. Boston: McGraw Hill.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
Pengelolaan sumberdaya ikan adalah semua upaya termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan yang bertujuan agar sumberdaya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati perairan yang terus menerus.[4]
[sunting]Penangkapan ikan
Penangkapan ikan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkannya.[5] Usaha perikanan yang bekerja di bidang penangkapan tercakup dalam kegiatan perikanan tangkap (capture fishery).
[sunting]Pembudidayaan ikan
Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan/atau membiakkan ikan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.[6] Usaha perikanan yang berupa produksi hasil perikanan melalui budidaya dikenal sebagai perikanan budidaya atau budidaya perairan (aquaculture).
[sunting]Referensi
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Castro, P. and M. Huber. (2003). Marine Biology. 4th ed. Boston: McGraw Hill.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 dan Nomor 31 Tahun 2004.
Categories
perikanan
JURNAL ILMU PERIKANAN
Kendala Penyakit pada Produksi Benih Vanamei di Asia
Masalah utama dalam produksi PL udang vannamei di Asia terjadi pada tahap zoea, di mana perkembangan larva. Zoea adalah tahap larva pertama yang masih tergantung pada makanan dari luar dan memiliki saluran pencernaan berupa usus yang baru terbentuk.
Masalah pada Zoea yang paling umum, yang disebut zoea II atau Z sindrom II, telah menjangkiti banyak hatchery di negeri Barat sehingga tidak mengagetkan bagi industri hatchery di Asia. Yang terjadi pada saat penyakit ini berlangsung, ketika metamorfosa larva pada tahap zoea II, usus kosong dan larva tidak pernah mau memulai untuk makan. Sel-sel epitel yang melapisi usus menembus masuk ke lumen, dan larva akan mati sebelum mencapai zoea III. Tidak ada patogen yang berdiri sendiri (tunggal) yang telah teridentifikasi sebagai penyebab masalah penyakit ini.
Upaya untuk mencegah zoea II biasanya meliputi peningkatan kebersihan sepanjang proses pemeliharaan larva. Peningkatan kualitas pakan alami (plankton) menggunakan pengenceran serial (metode kultur batch) seringkali membantu. Solusi yang cukup membantu untuk mengatasi masalah penyakit selama zoea II telah dijelaskan oleh Garriques dkk pada tahun 1995.
Di dalam solusi tersebut dijelaskan pengembangan penggunaan probiotik pada fasilitas hatchery. Probiotik hasil isolasi dari lingkungan lokal dan kemudian dukultur secara masal seperti halnya mikroalga. Selain itu penambahan gula setiap hari ke dalam probiotik sebagai nutrisi, dapat mencegah pembentukan strain bakteri patogen kompetitif.
Penyebab umum lainnya kematian zoea adalah kontaminasi logam berat dalam air, yang mengakibatkan cacat pada kaki-kaki selama tahap zoea. Penambahan 10 ppm EDTA ke dalam air pemeliharaan dapat menghilangkan masalah ini. Penyebab lain masalah zoea berhubungan dengan nutrisi induk. Selama tingginya tingkat pematangan, pemijahan, dan rematurasi, induk betina memerlukan nutrisi tertentu dalam tingkat yang sangat tinggi . High Health Aquaculture, sebuah perusahaan pemasok induk vannamei SPF dan pemasok teknologi untuk beberapa proyek pembenihan besar di Asia, menunjukkan bahwa kandungan pigmen yang tidak memadai dalam pakan induk akan menyebabkan induk defisiensi pigmen, yang berakibat pada mememutinya warna ovarium dari merah / oranye menjadi abu-abu / putih .
Pada tahap zoea, kuning telur pada larva dari induk yang kekurang pigmen akan tidak memiliki warna. Larva akan terlihat cacat pada kaki-kaki dan menunjukkan kelangsungan hidup yang rendah pada tahap zoea II-III. Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan pigmen ke dalam makanan induk. Metode yang sederhana untuk menambahkan pigmen adalah dengan melapisi pakan induk berupa cumi dengan paprika.
Masalah utama dalam produksi PL udang vannamei di Asia terjadi pada tahap zoea, di mana perkembangan larva. Zoea adalah tahap larva pertama yang masih tergantung pada makanan dari luar dan memiliki saluran pencernaan berupa usus yang baru terbentuk.
Masalah pada Zoea yang paling umum, yang disebut zoea II atau Z sindrom II, telah menjangkiti banyak hatchery di negeri Barat sehingga tidak mengagetkan bagi industri hatchery di Asia. Yang terjadi pada saat penyakit ini berlangsung, ketika metamorfosa larva pada tahap zoea II, usus kosong dan larva tidak pernah mau memulai untuk makan. Sel-sel epitel yang melapisi usus menembus masuk ke lumen, dan larva akan mati sebelum mencapai zoea III. Tidak ada patogen yang berdiri sendiri (tunggal) yang telah teridentifikasi sebagai penyebab masalah penyakit ini.
Upaya untuk mencegah zoea II biasanya meliputi peningkatan kebersihan sepanjang proses pemeliharaan larva. Peningkatan kualitas pakan alami (plankton) menggunakan pengenceran serial (metode kultur batch) seringkali membantu. Solusi yang cukup membantu untuk mengatasi masalah penyakit selama zoea II telah dijelaskan oleh Garriques dkk pada tahun 1995.
Di dalam solusi tersebut dijelaskan pengembangan penggunaan probiotik pada fasilitas hatchery. Probiotik hasil isolasi dari lingkungan lokal dan kemudian dukultur secara masal seperti halnya mikroalga. Selain itu penambahan gula setiap hari ke dalam probiotik sebagai nutrisi, dapat mencegah pembentukan strain bakteri patogen kompetitif.
Penyebab umum lainnya kematian zoea adalah kontaminasi logam berat dalam air, yang mengakibatkan cacat pada kaki-kaki selama tahap zoea. Penambahan 10 ppm EDTA ke dalam air pemeliharaan dapat menghilangkan masalah ini. Penyebab lain masalah zoea berhubungan dengan nutrisi induk. Selama tingginya tingkat pematangan, pemijahan, dan rematurasi, induk betina memerlukan nutrisi tertentu dalam tingkat yang sangat tinggi . High Health Aquaculture, sebuah perusahaan pemasok induk vannamei SPF dan pemasok teknologi untuk beberapa proyek pembenihan besar di Asia, menunjukkan bahwa kandungan pigmen yang tidak memadai dalam pakan induk akan menyebabkan induk defisiensi pigmen, yang berakibat pada mememutinya warna ovarium dari merah / oranye menjadi abu-abu / putih .
Pada tahap zoea, kuning telur pada larva dari induk yang kekurang pigmen akan tidak memiliki warna. Larva akan terlihat cacat pada kaki-kaki dan menunjukkan kelangsungan hidup yang rendah pada tahap zoea II-III. Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan pigmen ke dalam makanan induk. Metode yang sederhana untuk menambahkan pigmen adalah dengan melapisi pakan induk berupa cumi dengan paprika.
Categories
perikanan
PERIKANAN
P E R I K A N A N
POTENSI
Potensi ikan 500.000 ton/tahun.
Perikanan darat untuk pengembangan tambak seluas ± 40.409 Ha.
LOKASI
Kawasan Perairan Laut Banda.
LUAS AREAL
Sekitar ± 110.000 Km2 dengan panjang garis pantai ± 1.740 Km.
KONDISI/PRODUKSI SAAT INI
PT. Dharma Samudera Fishing Industries jenis usaha yang akan dikembangkan adalah industri galangan kapal (docking workshop dan dermaga), industri pengolahan dan pembekuan ikan yang berkapasitas 100 ton/hari dengan negara tujuan ekspor Jepang dan Amerika Serikat.
PT. Sultra Tuna Samudera jenis usaha yang dikembangkan untuk penangkapan ikan cakalang dan pengumpulan ikan segar dengan kapasitas 10 ton/hari dengan negara bagian ekspor Jepang.
PT. Jayanti Group dengan jenis usaha penangkapan ikan dan pengumpulan ikan yang berkapasitas 30 ton/hari. Negara bagian ekspor Jepang dan Taiwan.
PT. Yanagi Histalaraya dengan usaha pengumpulan ikan, udang, cumi-cumi, gurita dan rajungan dengan kapasitas 2,5 ton/hari. Negara tujuan ekspor Jepang.
PELUANG/PROSPEK
Potensi perikanan dan letak Sulawesi Tenggara yang strategis dalam perdagangan Asia Pasific (APEC).
Merupakan komoditi ekspor yang dapat mengembangkan usaha dibidang perikanan dan perluasan lapangan kerja.
PERMASALAHAN/HAMBATAN
Produksi ikan sampai sekarang baru 51,09% dari potensi lestari. Produksi tersebut diantarpulaukan dan di ekspor ke manca negara dengan jenis ikan yang dominan adalah cakalang, tuna, kerapu disamping untuk memenuhi kebutuhan komsumsi lokal.
LANGKAH PEMECAHAN
Dalam upaya untuk meningkatkan nilai tambah produksi hasil perikanan, Pemerintah Daerah memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya industri pengolahan ikan di daerah ini.
Melakukan kegiatan promosi investasi baik di tingkat Daerah, Nasional maupun Luar Negeri
Memprogramkan pulau Wawonii sebagai pusat kawasan industri perikanan laut.
POTENSI
Potensi ikan 500.000 ton/tahun.
Perikanan darat untuk pengembangan tambak seluas ± 40.409 Ha.
LOKASI
Kawasan Perairan Laut Banda.
LUAS AREAL
Sekitar ± 110.000 Km2 dengan panjang garis pantai ± 1.740 Km.
KONDISI/PRODUKSI SAAT INI
PT. Dharma Samudera Fishing Industries jenis usaha yang akan dikembangkan adalah industri galangan kapal (docking workshop dan dermaga), industri pengolahan dan pembekuan ikan yang berkapasitas 100 ton/hari dengan negara tujuan ekspor Jepang dan Amerika Serikat.
PT. Sultra Tuna Samudera jenis usaha yang dikembangkan untuk penangkapan ikan cakalang dan pengumpulan ikan segar dengan kapasitas 10 ton/hari dengan negara bagian ekspor Jepang.
PT. Jayanti Group dengan jenis usaha penangkapan ikan dan pengumpulan ikan yang berkapasitas 30 ton/hari. Negara bagian ekspor Jepang dan Taiwan.
PT. Yanagi Histalaraya dengan usaha pengumpulan ikan, udang, cumi-cumi, gurita dan rajungan dengan kapasitas 2,5 ton/hari. Negara tujuan ekspor Jepang.
PELUANG/PROSPEK
Potensi perikanan dan letak Sulawesi Tenggara yang strategis dalam perdagangan Asia Pasific (APEC).
Merupakan komoditi ekspor yang dapat mengembangkan usaha dibidang perikanan dan perluasan lapangan kerja.
PERMASALAHAN/HAMBATAN
Produksi ikan sampai sekarang baru 51,09% dari potensi lestari. Produksi tersebut diantarpulaukan dan di ekspor ke manca negara dengan jenis ikan yang dominan adalah cakalang, tuna, kerapu disamping untuk memenuhi kebutuhan komsumsi lokal.
LANGKAH PEMECAHAN
Dalam upaya untuk meningkatkan nilai tambah produksi hasil perikanan, Pemerintah Daerah memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya industri pengolahan ikan di daerah ini.
Melakukan kegiatan promosi investasi baik di tingkat Daerah, Nasional maupun Luar Negeri
Memprogramkan pulau Wawonii sebagai pusat kawasan industri perikanan laut.
Categories
perikanan
Minggu, 11 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)