KBR68H - Tiga perempat wilayah Indonesia adalah lautan, tapi Indonesia kini mengimpor ikan. Jumlah ikan berkurang separuhnya dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Pekalongan, Jawa Tengah, pada era 1970an berjaya sebagai pelabuhan ikan terpenting se-Asia Tenggara. Tahun ini, Pekalongan kehilangan sepertiga dari pendapatan tahun lalu di pelelangan ikan. Reporter KBR68H Ikhsan Raharjo datang ke pelelangan ikan yang makin jarang ada di Pekalongan.
Calon pembeli mengajukan penawaran di Tempat Pelelangan Ikan Pekalongan
Pelelangan ikan
Kapal milik Tarmuji baru saja bersandar di pelabuhan Pekalongan, Jawa Tengah. Kapal bermuatan 1 ton ikan ini tengah menurunkan puluhan keranjang berisi ikan. Anak buah kapal tengah membersihkan ikan yang berlumuran lumpur.
Ikan-ikan ini tak terlihat begitu segar, matanya merah. Tarmuji, pemilik kapal bercerita, es di kapalnya keburu habis sebelum kapal sampai ke pelabuhan. Ia melaut selama lebih 3 bulan, lebih lama dari biasanya.
Kapal Tarmuji adalah satu-satunya kapal yang bersandar di Pelabuhan Pekalongan dalam 10 hari terakhir. Begitu kapal tiba, ratusan pembeli langsung berkerumun ke tempat pelelangan ikan.
Tempat pelelangan ikan berada di sebuah bangunan seukuran setengah lapangan bola. Tarmuji jadi satu-satunya pedagang ikan di sana. Keranjang-keranjang ikan itu disusun memanjang. Setiap keranjang berisi 10-30 kilogram ikan dari berbagai jenis. Paling banyak ikan tongkol.
Pemilik kapal menghitung jumlah ikan yang ia dapat hari ini. Seratusan calon pembeli tengah melihat-lihat dan menyeleksi hasil tangkapan yang akan dibeli, sementara pemilik kapal mendata hasil tangkapan berdasarkan berat dan jenis ikan.
Julenah adalah pemilik warung makan kecil di Pekalongan. Ia tengah melihat-lihat ikan yang akan dibelinya. Ikannya jelek-jelek, kata dia. “Kemarin banyak sekali ikannya, kapalnya besar-besar, ikannya bagus-bagus. Sekarang nggak ada. Adanya ikan asin,” keluh Julenah.
Penurunan produksi ikan di Pekalongan sudah dirasakan nelayan sejak awal 2000-an. Rasjo Wibowo yang sudah menjadi nelayan sejak tahun 60-an ikut merasakannya. Saat ini Rasjo tengah menulis buku berjudul ‘Sejarah Perikanan Pekalongan’. Pekalongan sempat jadi pelabuhan dengan produksi ikan terbanyak se-Asia Tenggara. “Kondisi pada waktu tahun 1970, ikan itu ada di depan itu mau tangkap berapa aja bisa. Luar biasa subur sekali. Mulai surut pada 2001-2004 itu fatal sekali.”
Dulu, nelayan lokal Pekalongan bisa mengekspor ikan sampai ke Jepang dan Korea Selatan. Tapi sekarang ekspor harus diambil dari pasokan daerah-daerah lain. Kepala Dinas Perikanan Pekalongan, Widagdo mengatakan,”Sekarang kesulitan bahan baku juga. Kalau dulu di sekitar Pekalongan sekarang didatangkan dari Medan dan Jakarta.”
Tahun lalu, total produksi ikan tangkap di Indonesia mencapai 5 juta ton ikan segar. Tapi, Kota Pekalongan hanya mampu menyumbang tak lebih dari 1 persen.
Kondisi ini berdampak pada kesejahteraan keluarga nelayan. Kristin Satoto adalah istri salah satu nelayan di Pekalongan. Kata Kristin, pendapatan nelayan turun dari tahun ke tahun. “Pembagian hasil tangkapan ikan sampai 1.5 juta ada 1.2 juta. Tapi sekarang boro-boro 500 ribu. Satu bulan 300 ribu aja udah alhamdullillah matur nuwun.”
Kristin tinggal di perkampungan nelayan tak jauh dari Pelabuhan Pekalongan. Di sana kebanyakan nelayan berganti profesi menjadi kuli panggul atau tukang becak. Banyak juga yang menganggur dan tinggal di rumah. Ujung-ujungnya pendidikan anak nelayan yang kena imbasnya. Angka pelajar yang putus sekolah terus bertambah. Mereka harus membantu orang tuanya mencari uang. “Mas, bisa lihat sendiri ini anak-anak ini dulu nelayan semua. Sekarang mereka harus ngamen,” kata Kristin.
Apa yang terjadi di Pekalongan? Mengapa tak ada lagi ikan untuk ditangkap di tempat yang dulunya jadi pelabuhan terpenting se-Asia Tenggara ini?
Ikan-ikan di pelelangan
Surutnya ikan di laut Indonesia
Menurunnya jumlah hasil tangkapan ikan tak hanya terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah. Profesor perikanan dari Institut Pertanian Bogor, Ari Purbayanto, mengatakan terjadi penurunan stok perikanan tangkap di seluruh perairan Indonesia. Ini disebabkan oleh penangkapan ikan yang berlebihan di laut alias overfishing.
“Di beberapa wilayah sudah diberi tanda merah bahkan beberapa kuning. Artinya sudah over eksploitasi dan yang kuning ini fully exploited atau eksploitasi tinggi. Sebagai contoh di Laut Jawa, Selat Makassar, Selat Malaka ini wilayah padat tangkap kemudian sumberdayanya juga sudah terbatas. Sehingga perlu pengelolaan di kemudian hari kalau kita mau melestarikannya.”
Gejala penurunan stok ikan sudah terlihat di Pekalongan. Nelayan kini harus melaut lebih jauh dari perairan Pekalongan. Aktivis perikanan dari LSM lingkungan WWF, Abdullah Habibie. “Nelayan Pekalongan ini dikenal mereka cari ikannya sampai jauh-jauh sampai Samudera Hindia, Laut Indonesia, sebelah barat Sumatera maupun utara Jawa, kemudian Laut Cina Selatan sampai ke perbatasan sana kemudian Laut Arafura. Mereka penjelajah yang sangat terkenal hanya untuk mendapatkan stok ikan.”
Karena nelayan harus melaut lebih jauh, akibatnya kondisi ikan sudah tak segar ketika tiba di tempat pelelangan.
Nelayan senior Pekalongan, Rasjo Wibowo, punya pendapat lain. Ia menduga salah satu penyebab penurunan stok ikan adalah kebiasaan nelayan menjaring ikan yang akan bertelur. “Pikiran nelayan itu bukan bagaimana mendapat uang yang banyak tapi bagaimana mendapatkan ikan yang banyak.Termasuk ikan yang bertelur, justru malah senang dia karena harganya mahal. Mestinya tidak boleh itu yang bertelur itu. Karena satu ikan bertelur bisa dapat berapa juta ekor itu.”
Lalu bagaimana cara menyelamatkan perikanan tangkap Indonesia?
Kebiasaan nelayan menangkap ikan yang bertelur harus diubah, begitu kata nelayan senior Pekalongan, Rasjo Wibowo. “Pada waktu musim ikan bertelur sampai memijah selama 3 bulan, itu kalau bisa nelayan jangan berangkat dulu. Kapal-kapal yang menggunakan jaring seperti purse seine itu tidak boleh berangkat dulu.” Sebagai gantinya, pemerintah mesti memberikan perhatian khusus bagi nelayan, misalnya dengan memberikan kredit atau pekerjaan lainnya.
Ada juga solusi versi pemerintah, yakni menjemput hasil tangkapan nelayan di tengah laut dengan kapal pengangkut. Ini dilakukan agar kesegaran ikan bisa tetap terjaga, tanpa perlu kehabisan es di tengah perjalanan. Kepala Seksi Tata Operasional Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tourhadi. “Kapal pengangkut kita untuk mendampingi dari kapal-kapal penangkap yang sekitar ada 200 kapal. Sehingga nanti dia setiap minggu bisa datang-pergi dengan membawa hasil kapal penangkap dan kapal penangkap itu tidak harus pulang. Jadi ketika bawa kesana dia bisa bawa perbekalan. Yang kedua, kapal pengangkut ini tujuannya untuk peningkatan mutu yang ada di Pekalongan.”
Sementara guru besar perikanan IPB, Ari Purbayanto berpendapat, perlu ada pengurangan jumlah nelayan tangkap di Indonesia. Mereka bisa alih profesi jadi pembudidaya ikan. “Usaha yang perlu dilakukan untuk efisiensi yaitu pengurangan armada. Termasuk pengurangan nelayan untuk dialihkan kepada kegiatan lainnya.” Menurut Ari, pengolahan dan budidaya ikan juga punya potensi besar, dan itu perlu didorong pemerintah.
Industri perikanan juga mesti dipastikan hanya mengambil ikan atau hewan laut dengan cara yang ramah lingkungan. Program ini sudah dijalankan LSM lingkungan WWF dengan nama seafood savers atau penyelamat laut. Industri perikanan yang tidak mengambil ikan secara berlebihan, bakal mendapat sertifikat khusus untuk menjual produk perikanan yang ramah lingkungan.
Keunggulannya, produk seperti ini bakal lebih mudah diekspor ke luar negeri, kata aktivis WWF Abdullah Habibie. “Saat ini ada banyak perusahaan yang menghubungi kami dan mereka sudah mulai mendorong “Pak kami ingin produk yang dijual ke luar negeri ini bisa tersertifikasi.” Mereka adalah perusahaan dalam negeri. Ada lagi supplier dari luar negeri yang menginginkan produk yang tersertifikasi.”
Ikan sudah tak segar karena terlalu lama di perjalanan
Salah satu perusahaan yang bergabung dengan program ini adalah Ranch Market. Supermarket asal Amerika Serikat ini telah mendapat sertifikasi WWF untuk penjualan produk ikan mereka. Pelanggan Ranch Market bisa mendapat penjelasan tentang produk perikanan yang ramah lingkungan. Namun, program ini mandek, kata Juru bicara Ranch Market, Flora Chrisantie. “Tapi nantinya akan dilakukan secara terus menerus. Karena sudah masuk programnya perusahaan. Nanti diatur oleh marketing Ranch Market kapan akan dilakukan educate-nya, kapan akan dilakukan promotionnya.”
Anda pun bisa ikut menyelamatkan isi laut dengan memperhatikan ikan apa yang Anda makan. WWF mengeluarkan buku kecil yang di dalamnya ada daftar ikan yang boleh dimakan serta yang sebaiknya dihindari karena ditangkap dengan cara yang tak ramah lingkungan. “Sekarang konsumen harus cerdas dalam memilih seafood yang akan dimakan karena jenis seafood yang dipilih oleh konsumen memengaruhi nelayan yang menangkapnya. Misalnya, ikan kerapu yang ditangkap di daerah Indonesia barat dan ditangkap dengan cara yang merusak misalnya dengan menggunakan bom langsung kami berikan rekomendasi jangan makan itu. Karena cara menangkapnya sudah merusak nanti di seafood guide kami akan ada info alat tangkap dan area ikan tersebut ditangkap,” kata Abdullah Habibie aktivis WWF.
Kembali ke tempat pelelangan ikan di Pekalongan.
Puluhan orang mengerumuni keranjang ikan tongkol yang tengah dilelang. Setiap orang mengangkat tangan sebagai isyarat menawar harga, sementara juru lelang menyebutkan harga jual ikan tersebut. Sebagian besar ikan tampak tak segar, harganya pun cenderung mahal.
Julenah mengincar ikan tongkol berkualitas tinggi untuk diolah di warung makannya. Tapi ia tak bertahan lama. Harga ikan terlalu tinggi, kata dia.
Minggu, 18 Desember 2011
Produksi Ikan Budidaya Melonjak
ANTARA/Heru Salim/boJAKARTA--MICOM: Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, peningkatan produksi perikanan budidaya rata-rata sebesar 27 persen per tahun sehingga diharapkan budidaya dapat menjadi sektor utama menggeser perikanan tangkap.
"Kita mengharapkan di Indonesia trennya akan bergeser dari perikanan tangkap kepada perikanan dengan akuakultur atau budidaya," kata Fadel Muhammad di sela-sela seminar di Jakarta, Selasa (4/10).
Untuk itu, menurut Fadel, mulai 2010, anggaran yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan juga akan berfokus kepada sektor budidaya.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), realisasi produksi perikanan pada budidaya pada tahun 2009 adalah 4,7 juta ton.
"Pada tahun 2010, dari yang kita targetkan sebesar 5,4 juta ton, ternyata dapat direalisasikan hingga 6,2 juta ton," kata Fadel sambil menambahkan, target pada 2011 yang ditetapkan oleh KKP adalah sebesar 6,8 juta ton.
Karenanya, ujar dia, pihak KKP telah memfokuskan diri pada program Minapolitan yang juga mencakup sektor perikanan budidaya. (Ant/OL-9)
Categories
perikanan
produksi perikanan belum merata
Produksi Perikanan Belum Merata
Pemerintah mengklaim produksi perikanan budidaya 2010 meningkat 16,34 %. Tapi bagi sebagian praktisi dan pelaku usaha perikanan mempertanyakan kenaikan tersebut.
Ade Misbah dengan bangga menuturkan bisnisnya yang moncer pada 2010 lalu. Pengusaha budidaya KJA (Keramba Jaring Apung) di Waduk Cirata Jawa Barat itu menyebutkan ada kenaikan produksi ikan masnya. Hal ini didorong karena ada peningkatan permintaan komoditas tersebut , dari 100 – 150 ton per bulan pada 2009 menjadi 200 – 220 ton per bulan mulai April 2010. Kegembiraan Ade pun kian bertambah karena harga ikan mas pada 2010 juga sedang bagus yang berkisar Rp 12 – 14 ribu per kilogram.
Kenaikan produksi juga dirasakanpembudidaya lele di Ciseeng, Bogor, Jaja Jamaludin. Ia mengatakan, produksinya untuk tahun ini naik karena konsumsi ikan berkumis itu juga tinggi. Kondisi itu mendorong lahirnya pemain-pemain baru sehingga mampu menggenjot produksi lele nasional. Tak heran jika capaian produksi lele nasional tahun ini mencapai 273.554 ton, melebihi target yang sebesar 270.600 ton. Harga lele juga naik menjadi Rp 10.500 – 11.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 9 ribu per kilogram.
Ade dan Jaja adalah contoh sempurna untuk memperkuat laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tentang produksi perikanan budidaya yang naik 16,34 %. Yakni dari 4.708.565 ton pada 2009 menjadi 5.478.062 ton pada 2010. Meski kenaikan tersebut tidak sesuai dengan target produksi yang ditetapkan sebelumnya sebesar 5.736.200 ton.
Kedua pembudidaya ikan air tawar itu hanya secuil potret yang pembudidaya ikan yang meraup sukses pada 2010. Faktanya, masih banyak pembudidaya perikanan yang tak seberuntung kedua orang tersebut karena harus berjibaku dengan cuaca yang mengganas sepanjang 2010.
Menyoroti soal kenaikan produksi perikanan, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Thomas Darmawan menyatakan, produksi perikanan budidaya memang kelihatannya meningkat, tetapi itu untuk beberapa komoditas saja. Komoditas yang dimaksud Thomas antara lain ikan lele dan bandeng.
Ia menjelaskan, dari data KKP terlihat realisasi produksi bandeng terjadi peningkatan 23,7 %, dari 328.288 ton pada 2009 menjadi 483.948 ton di 2010. “Otomatis, proyeksi produksi bandeng sebesar 394.600 ton pun tercapai bahkan lebih,” ujarnya. Thomas menambahkan, naiknya produksi bandeng itu karena banyak petani garam yang mengalihfungsikan lahan kolam garam mereka menjadi kolam bandeng menyusul ketiadaan sinar matahari akibat cuaca ekstrem.
Senada dengan Thomas, Direktur Pemasaran PT. Sinta Prima Feedmill, Anang Hermanta menilai, sebagian besar komoditas perikanan tidak mengalami peningkatan produksi. “Pertumbuhan perikanan budidaya baik tawar dan laut tidak merata, 2010 tidak sebaik 2009,” kata .
Perbedaan Data Produksi
Soal produksi perikanan, Ketua Asosiasi Petani Rumput Laut Indonesia (Asperli) Arman Arfah berpendapat, pemerintah sebaiknya perlu mengkaji ulang nilai yang dikeluarkan untuk total produksi tahun kemarin. Sebab faktanya, tak ada komoditas perikanan yang tidak mengalami penurunan produksi gara-gara cuaca ekstrem selama 2010.
Rumput laut misalnya. Dari data Asperli, Arman menyebutkan terjadi penurunan produksi sebesar 7 – 10 % pada 2010 (rumput laut kering). Sedangkan catatan data sementara KKP, produksi rumput laut basah mengalami peningkatan dari 2.672.800 ton pada 2009 menjadi 3.082.113 ton di 2010.
Berita Terkait Produksi Perikanan Belum Merata
PERIKANAN DAN KETAHANAN PANGAN
Produksi perikanan tahun 2010 mencapai 10,83 juta ton, meningkat sebesar 10,29% dibandingkan tahun 2009 yang besarnya 9,82 juta ton. Target produksi perikanan untuk tahun 2014 ...
Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan Nelayan
Sinar Harapan, Senin, 08 Pebruari 2010 13:58Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan NelayanOLEH: SUHANAPublikasi Badan Pusat Statistik awal Februari ini menunjukkan bahwa sumbangan inflasi ikan segar ...
Ambisi Jadi Terbesar di Dunia
Ambisi Jadi Terbesar di DuniaKamis, 28 Januari 2010Sektor Perikanan I Infrastruktur Pendukung Pengembangan Belum MemadaiPemerintah akan meningkatkan inovasi teknologi sektor perikanan, khususnya teknologi pengadaan bibit ...
JENIS KOMODITAS BUDIDAYA LAUT
RAGAM JENIS KOMODITAS YANG DAPAT DIBUDIDAYAKAN PADA WILAYAH SUMBERDAYA LAUTBudidaya laut merupakan salah satu subsektor perikanan budidaya yang pengembangan berada dalam area terbatas. Biasanya letaknya ...
Categories
perikanan
Label Organik Dalam Perikanan Budidaya
Label Organik dalam Perikanan Budidaya
ditulis oleh adminmai
sabtu, 10 april 2010 04:54
Label organik dalam perikanan budidaya diperlukan karena banyaknya kegiatan yang bersifat unsustainable aquaculture, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Akan tetapi, tujuan tersebut sulit dicapai karena adanya kendala dalam persyaratan labelisasi. Maka dari itu, pihak Amerika akan membuat suatu perangkat aturan mengenai batasan dalam perikanan budidaya organik yang penting diketahui oleh pihak industri, ditulis oleh Adam Anson, melaporkan kepada TheFishSite.
Pengertian label organik dalam produk budidaya masih menjadi permasalahan. Sama halnya dengan label organik dalam sektor peternakan (livestock) merupakan bentuk respon masyarakat akibat adanya kegiatan intensifikasi yang merusak lingkungan.
Tren dalam industri akuakultur yang berkelanjutan, meliputi dua hal, pertama adalah peningkatan keutuhan permintaan ikan skala global, dan kedua mengenai penurunan populasi stok ikan di alam, karena apabila tidak dipertahankan maka tidak dapat mencukupi kebutuhan konsumsi di masa yang akan datang.
The Center for Food Safety, merupakan organisasi keanggotaan yang bersifat non-profit, bertugas melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Konsep pendekatan secara menyeluruh dalam sistem manajemen budidaya organik dapat menurunkan dampak negatif kegiatan budidaya terhadap lingkungan dan kesehatan. Label organik dapat memberikan kekuatan pada pemasaran dan peningkatan nilai produk, serta industri secara keseluruhan.
Menurut laporan Departemen Pertanian Amerika (USDA), budidaya organik sangat potensial di negara Eropa dan Amerika Serikat. Produksi utama budidaya organik negara Eropa, yaitu ikan salmon, karper, dan ikan trout. Sedangkan produk bersertifikat organik dari negara Vietnam, Peru, Ekuador, Chile, Selandia Baru, dan Israel meliputi remis (mussels), Tiger shrimp, udang putih, dan ikan Tilapia.
Definisi Organik
Pada tahun 2002, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyatakan bahwa terdapat sekitar 20-25 badan sertifikasi akuakultur organik, baik dari pihak pemerintah maupun swasta. Federasi Pergerakan Petani Organik Internasional (IFOAM) akan membuat petunjuk pelaksanaan sertifikasi budidaya organik di seluruh dunia.
Sertifikasi ini baru pertama kali dilaksanakan oleh negara Eropa dan akan dikeluarkan pada bulan Januari 2009. Hal ini akan menjadi peraturan dasar pelaksanaan budidaya organik di Eropa.
Sertifikasi juga akan diterapkan pada beberapa spesies budidaya, seperti ikan, kerang, moluska, dan tumbuhan air.
Budidaya Salmon di perairan terbuka juga tertantang menjadi produksi organik karena terkontaminasi kutu laut dan kehilangan nutrien.
Menurut informasi dari Lembaga the Soil Association : "Terdapat perbedaan hasil antara budidaya organik di lingkungan akuatik dan “soil” secara tradisional. Akan tetapi, prinsip organik dari IFOAM secara keseluruhan dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya.
Diinformasikan juga bahwa spesies ikan karper, tilapia, patin, dan beberapa jenis ikan serupa dapat tumbuh dalam kepadatan stok yang rendah dan minimal kebutuhan pakan eksternal dapat terpenuhi.
Menurut lembaga tersebut, penggunaan tepung dan minyak ikan dalam pakan akuakultur, terutama dalam pakan ikan karnivora banyak dikeluhkan karena bersifat unsustainable dan menjadi sumber polutan organik (seperti PCB dan dioksin). Hal ini juga menjadi tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri akuakultur global, karena sekitar 46% dan 81% pakan masih menggunakan tepung dan minyak ikan.
Label Organik
Label organik digunakan untuk memberikan kepercayaan kepada para konsumen terhadap produk akuakultur. Maka diperlukan keseimbangan antara prinsip-prinsip organik dengan komersialisasi pembangunan”, ungkap the Soil Association.
Baru-baru ini, Badan Standar Organik Nasional (NOSB), suatu badan penasehat pada jasa pemasaran di lembaga USDA telah menyetujui penggunaan label organik dalam produk budidaya, jika pakan yang digunakan merupakan hasil tangkapan alam dan pakan anorganik lainnya. Oleh karena itu, diupayakan seperempat bagian pakan terdiri dari ikan hasil tangkapan alam.
Berita dari Washington Post menyebutkan bahwa pelaksanaan sertifikasi budidaya dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi ikan dalam karamba jaring terbuka (open-net cages).” Namun, terdapat suatu kendala yang dihadapi, yaitu mengenai rendahnya harga produk akuakultur akibat tidak konsistensinya dengan prinsip-prinsip organik di masa yang akan datang. Kebutuhan dana yang besar juga diperlukan dalam budidaya organik ikan Salmon.
Dikatakan oleh pihak the soil association bahwa label organik akan mengalami penurunan nilai apabila lembaga-lembaga regulator dan sertifikasi menggunakan standar yang lemah.
ditulis oleh adminmai
sabtu, 10 april 2010 04:54
Label organik dalam perikanan budidaya diperlukan karena banyaknya kegiatan yang bersifat unsustainable aquaculture, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Akan tetapi, tujuan tersebut sulit dicapai karena adanya kendala dalam persyaratan labelisasi. Maka dari itu, pihak Amerika akan membuat suatu perangkat aturan mengenai batasan dalam perikanan budidaya organik yang penting diketahui oleh pihak industri, ditulis oleh Adam Anson, melaporkan kepada TheFishSite.
Pengertian label organik dalam produk budidaya masih menjadi permasalahan. Sama halnya dengan label organik dalam sektor peternakan (livestock) merupakan bentuk respon masyarakat akibat adanya kegiatan intensifikasi yang merusak lingkungan.
Tren dalam industri akuakultur yang berkelanjutan, meliputi dua hal, pertama adalah peningkatan keutuhan permintaan ikan skala global, dan kedua mengenai penurunan populasi stok ikan di alam, karena apabila tidak dipertahankan maka tidak dapat mencukupi kebutuhan konsumsi di masa yang akan datang.
The Center for Food Safety, merupakan organisasi keanggotaan yang bersifat non-profit, bertugas melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Konsep pendekatan secara menyeluruh dalam sistem manajemen budidaya organik dapat menurunkan dampak negatif kegiatan budidaya terhadap lingkungan dan kesehatan. Label organik dapat memberikan kekuatan pada pemasaran dan peningkatan nilai produk, serta industri secara keseluruhan.
Menurut laporan Departemen Pertanian Amerika (USDA), budidaya organik sangat potensial di negara Eropa dan Amerika Serikat. Produksi utama budidaya organik negara Eropa, yaitu ikan salmon, karper, dan ikan trout. Sedangkan produk bersertifikat organik dari negara Vietnam, Peru, Ekuador, Chile, Selandia Baru, dan Israel meliputi remis (mussels), Tiger shrimp, udang putih, dan ikan Tilapia.
Definisi Organik
Pada tahun 2002, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyatakan bahwa terdapat sekitar 20-25 badan sertifikasi akuakultur organik, baik dari pihak pemerintah maupun swasta. Federasi Pergerakan Petani Organik Internasional (IFOAM) akan membuat petunjuk pelaksanaan sertifikasi budidaya organik di seluruh dunia.
Sertifikasi ini baru pertama kali dilaksanakan oleh negara Eropa dan akan dikeluarkan pada bulan Januari 2009. Hal ini akan menjadi peraturan dasar pelaksanaan budidaya organik di Eropa.
Sertifikasi juga akan diterapkan pada beberapa spesies budidaya, seperti ikan, kerang, moluska, dan tumbuhan air.
Budidaya Salmon di perairan terbuka juga tertantang menjadi produksi organik karena terkontaminasi kutu laut dan kehilangan nutrien.
Menurut informasi dari Lembaga the Soil Association : "Terdapat perbedaan hasil antara budidaya organik di lingkungan akuatik dan “soil” secara tradisional. Akan tetapi, prinsip organik dari IFOAM secara keseluruhan dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya.
Diinformasikan juga bahwa spesies ikan karper, tilapia, patin, dan beberapa jenis ikan serupa dapat tumbuh dalam kepadatan stok yang rendah dan minimal kebutuhan pakan eksternal dapat terpenuhi.
Menurut lembaga tersebut, penggunaan tepung dan minyak ikan dalam pakan akuakultur, terutama dalam pakan ikan karnivora banyak dikeluhkan karena bersifat unsustainable dan menjadi sumber polutan organik (seperti PCB dan dioksin). Hal ini juga menjadi tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri akuakultur global, karena sekitar 46% dan 81% pakan masih menggunakan tepung dan minyak ikan.
Label Organik
Label organik digunakan untuk memberikan kepercayaan kepada para konsumen terhadap produk akuakultur. Maka diperlukan keseimbangan antara prinsip-prinsip organik dengan komersialisasi pembangunan”, ungkap the Soil Association.
Baru-baru ini, Badan Standar Organik Nasional (NOSB), suatu badan penasehat pada jasa pemasaran di lembaga USDA telah menyetujui penggunaan label organik dalam produk budidaya, jika pakan yang digunakan merupakan hasil tangkapan alam dan pakan anorganik lainnya. Oleh karena itu, diupayakan seperempat bagian pakan terdiri dari ikan hasil tangkapan alam.
Berita dari Washington Post menyebutkan bahwa pelaksanaan sertifikasi budidaya dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi ikan dalam karamba jaring terbuka (open-net cages).” Namun, terdapat suatu kendala yang dihadapi, yaitu mengenai rendahnya harga produk akuakultur akibat tidak konsistensinya dengan prinsip-prinsip organik di masa yang akan datang. Kebutuhan dana yang besar juga diperlukan dalam budidaya organik ikan Salmon.
Dikatakan oleh pihak the soil association bahwa label organik akan mengalami penurunan nilai apabila lembaga-lembaga regulator dan sertifikasi menggunakan standar yang lemah.
Categories
perikanan
Rabu, 14 Desember 2011
spesies ikan pelangi
Pouyaud 2008
Spesies baru ikan pelangi ditemukan oleh tim riset bersama Indonesia dan Perancis. Dideskripsi dengan nama ilmiah Melanotaenia salawati, diyakini sebagai spesies endemik dari pulau Salawati, salah satu pulau besar dari gugusan kepulauan Raja Ampat. Sebagai bagian dari ekoregion Kepala Burung Papua, kawasan ini dikenal sebagai pusat keanekaragaman ikan pelangi dengan tingkat endemisitas tertinggi di ekozona Australasia. Ikan pelangi Salawati adalah spesies ke-19 yang ditemukan oleh para ilmuwan sejak beberapa dekade terakhir.
TERKAIT:
Katak Pelangi Muncul Lagi di Kalimantan
JAKARTA, KOMPAS.com - Tim ilmuwan Indonesia dan Perancis menemukan spesies baru ikan Pelangi di Pulau Salawati, salah satu wilayah kepulauan Raja Ampat. Spesies tersebut diberi nama Melanotaenia salawati, merupakan spesies ke 19 yang ditemukan lewat eksplorasi biodiversitas di kawasan ekoregion Kepala Burung Papua, dimana Raja Ampat masuk di dalamnya. Penemuan dipublikasikan di "International Journal of Ichtyology Cybium yang terbit bulan ini.
Kadarusman, salah satu anggota tim peneliti dan dosen Akademi Perikanan Sorong dalam surat elektronik yang diterima Kompas.com, Minggu (11/12/2011), mengatakan, Melanotaenia salawati tepatnya ditemukan di Sungai Doktor, bagian barat Pulau Salawati, berjarak 64 km dari Sorong. Sungai tempat ikan pelangi tersebut ditemukan memiliki air yang oleh masyarakat setempat dianggap bisa menyembuhkan beragam penyakit sehingga disebut Sungai Doktor.
Melanotaenia salawati memiliki warna tubuh yang indah. Tubuhnya dibalut dengan warna ungu pada bagian punggung dan lembayung ungu pada hipural ekor. Tutup insangnya punya warna emas dan noktah hijau. Sementara, bagian perut hingga akhir sirip ekor berwarna violet dengan noktah biru di gurat sisi serta warna biru tua di tubuh bagian belakangnya.
Ikan Pelangi Salawati memiliki kekerabatan dengan jenis Melanotaenia fredericki yang banyak ditemukan di sungai besar Warsamson, Sorong. Jenis ikan tersebut juga memiliki kekerabatan dengan Melatotaenia batata yang ditemukan di Pulau Batata. Ketiganya memiliki corak warna tubuh yang hampir serupa.
Semula, Ikan Pelangi Salawati sempat dianggap hanya varietas dari Melanotaenia fredericki. Namun, analisis membuktikan bahwa keduanya adalah spesies yang berbeda. Ikan Pelangi Salawati terpisah dengan moyangnya saat terjadinya kenaikan muka air laut 10.000 - 20.000 tahun silam, menggenangi sungai kuno di Sorong dan Pulau Salawati.
Penemuan Ikan Pelangi Salawati hanya berselang setahun dengan penemuan spesies baru Melanotaenia fasiensis dan Melanotaenia ajamaruensis. Ikan Pelangi Salawati juga merupakan spesies ke 19 yang ditemukan. Hal ini semakin meneguhkan bahwa Kepala Burung Papua memiliki biodiversitas dan tingkat endemisitas tinggi.
Sudarto, anggota tim peneliti dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok mengungkapkan bahwa salah satu pusat biodiversitas ikan pelangi di Kepala Burung Papua adalah kawasan karst Ayamaru di Sorong Selatan dan karst Lengguru di Kaimana. Ikan pelangi di wilayah tersebut memiliki warna yang lebih bervariasi, didominasi warna terang.
Sementara itu. Laurent Pouyaud dari Institut de Recherche pour le Développement, Perancis, mengatakan bahwa temuan Ikan Pelangi Salawati juga menandakan tantangan baru dalam sains. Biodiversitas di Kepala Burung Papua menanti untuk diteliti dan diungkap keberadaannya. Salah satunya di Ayamaru yang diduga menjadi metropolitan genus Melanotaenia.
Penemuan Melanotaenia salawati adalah hasil kerjasama Akademi Perikanan Sorong, Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok dan Institut de Recherche pour le Développement, Perancis. Sejak tahun 2007, tim peneliti telah menginventarisasi potensi keragaman ikan pelangi Papua untuk studi taksonomi, domestikasi, konservasi dan evolusi.
Data sementara dari analsis molekuler menunjukkan tingginya potensi megabiodiversitas ikan pelangi di Papua. Bagi pemerintah, potensi ini mesti ditanggapi dengan mendukung upaya penelitian lebih lanjut. Potensi terkait budidaya ikan hias juga harus disebarkan ke masyarakat. Ikan pelangi merupakan salah satu ikan hias populer di seluruh dunia, kecuali Afrika.
Share
110
Spesies baru ikan pelangi ditemukan oleh tim riset bersama Indonesia dan Perancis. Dideskripsi dengan nama ilmiah Melanotaenia salawati, diyakini sebagai spesies endemik dari pulau Salawati, salah satu pulau besar dari gugusan kepulauan Raja Ampat. Sebagai bagian dari ekoregion Kepala Burung Papua, kawasan ini dikenal sebagai pusat keanekaragaman ikan pelangi dengan tingkat endemisitas tertinggi di ekozona Australasia. Ikan pelangi Salawati adalah spesies ke-19 yang ditemukan oleh para ilmuwan sejak beberapa dekade terakhir.
TERKAIT:
Katak Pelangi Muncul Lagi di Kalimantan
JAKARTA, KOMPAS.com - Tim ilmuwan Indonesia dan Perancis menemukan spesies baru ikan Pelangi di Pulau Salawati, salah satu wilayah kepulauan Raja Ampat. Spesies tersebut diberi nama Melanotaenia salawati, merupakan spesies ke 19 yang ditemukan lewat eksplorasi biodiversitas di kawasan ekoregion Kepala Burung Papua, dimana Raja Ampat masuk di dalamnya. Penemuan dipublikasikan di "International Journal of Ichtyology Cybium yang terbit bulan ini.
Kadarusman, salah satu anggota tim peneliti dan dosen Akademi Perikanan Sorong dalam surat elektronik yang diterima Kompas.com, Minggu (11/12/2011), mengatakan, Melanotaenia salawati tepatnya ditemukan di Sungai Doktor, bagian barat Pulau Salawati, berjarak 64 km dari Sorong. Sungai tempat ikan pelangi tersebut ditemukan memiliki air yang oleh masyarakat setempat dianggap bisa menyembuhkan beragam penyakit sehingga disebut Sungai Doktor.
Melanotaenia salawati memiliki warna tubuh yang indah. Tubuhnya dibalut dengan warna ungu pada bagian punggung dan lembayung ungu pada hipural ekor. Tutup insangnya punya warna emas dan noktah hijau. Sementara, bagian perut hingga akhir sirip ekor berwarna violet dengan noktah biru di gurat sisi serta warna biru tua di tubuh bagian belakangnya.
Ikan Pelangi Salawati memiliki kekerabatan dengan jenis Melanotaenia fredericki yang banyak ditemukan di sungai besar Warsamson, Sorong. Jenis ikan tersebut juga memiliki kekerabatan dengan Melatotaenia batata yang ditemukan di Pulau Batata. Ketiganya memiliki corak warna tubuh yang hampir serupa.
Semula, Ikan Pelangi Salawati sempat dianggap hanya varietas dari Melanotaenia fredericki. Namun, analisis membuktikan bahwa keduanya adalah spesies yang berbeda. Ikan Pelangi Salawati terpisah dengan moyangnya saat terjadinya kenaikan muka air laut 10.000 - 20.000 tahun silam, menggenangi sungai kuno di Sorong dan Pulau Salawati.
Penemuan Ikan Pelangi Salawati hanya berselang setahun dengan penemuan spesies baru Melanotaenia fasiensis dan Melanotaenia ajamaruensis. Ikan Pelangi Salawati juga merupakan spesies ke 19 yang ditemukan. Hal ini semakin meneguhkan bahwa Kepala Burung Papua memiliki biodiversitas dan tingkat endemisitas tinggi.
Sudarto, anggota tim peneliti dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok mengungkapkan bahwa salah satu pusat biodiversitas ikan pelangi di Kepala Burung Papua adalah kawasan karst Ayamaru di Sorong Selatan dan karst Lengguru di Kaimana. Ikan pelangi di wilayah tersebut memiliki warna yang lebih bervariasi, didominasi warna terang.
Sementara itu. Laurent Pouyaud dari Institut de Recherche pour le Développement, Perancis, mengatakan bahwa temuan Ikan Pelangi Salawati juga menandakan tantangan baru dalam sains. Biodiversitas di Kepala Burung Papua menanti untuk diteliti dan diungkap keberadaannya. Salah satunya di Ayamaru yang diduga menjadi metropolitan genus Melanotaenia.
Penemuan Melanotaenia salawati adalah hasil kerjasama Akademi Perikanan Sorong, Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok dan Institut de Recherche pour le Développement, Perancis. Sejak tahun 2007, tim peneliti telah menginventarisasi potensi keragaman ikan pelangi Papua untuk studi taksonomi, domestikasi, konservasi dan evolusi.
Data sementara dari analsis molekuler menunjukkan tingginya potensi megabiodiversitas ikan pelangi di Papua. Bagi pemerintah, potensi ini mesti ditanggapi dengan mendukung upaya penelitian lebih lanjut. Potensi terkait budidaya ikan hias juga harus disebarkan ke masyarakat. Ikan pelangi merupakan salah satu ikan hias populer di seluruh dunia, kecuali Afrika.
Share
110
Categories
perikanan
maksimalkan kekayaan laut
INDONESIA tak ubahnya perempuan cantik yang sibuk bersolek dan bepergian, sementara rumah dan keluarganya tidak terurus. Dalam kepemimpinan beberapa presiden hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini, Indonesia boleh bangga dengan keberhasilan menggelar berbagai event, seperti KTT ASEAN Plus dan lainnya, di samping kesibukan Presiden dan jajarannya bepergian ke luar negeri guna memenuhi undangan. Tetapi kondisi di dalam negeri sendiri karut-marut.
Terkait dengan Hari Nusantara 2011 yang diperingati setiap tanggal 13 Desember, termasuk Selasa (13/12) lalu misalnya, banyak di antara kita tersadar betapa laut luas yang dimiliki dari dulu hingga kini tidak pernah dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, dalam sambutannya pada acara peringatan Hari Nusantara 2011, di Dumai, Riau, Selasa lalu, mengimpikan kebangkitan Indonesia sebagai negara maritim.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dalam sambutan tertulisnya pada acara sama, malah merasa perlu mengingatkan bangsa, tentunya terutama aparat keamanan, untuk tidak membiarkan bangsa lain menguasai dan menikmati kekayaan laut Nusantara. Apa yang dikatakan Cicip dan Purnomo sangat beralasan, sebab laut kita mengandung kekayaan tak terhingga. Bukan hanya ikan, minyak bumi, tapi juga keindahan pantai/lautan yang laku dijual sebagai tujuan wisata.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, di mana 70 persen wilayahnya terdiri dari laut/perairan, adalah aneh jika Indonesia mengimpor ikan dan garam. Itu bukan saja dapat dikatakan penghinaan,karena seharusnya negeri ini memiliki hasil ikan dan garam melimpah,tetapi juga membunuh para petani/nelayan yang masih tradisional.
Karena itu, apa yang disuarakan dua menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu tentang laut Indonesia, seharusnya ditindaklanjuti. Pemerintah, dari Presiden hingga pelaksana di lapangan, harus mendukung penuh dan serius memaksimalkan hasil laut. Kekayaan laut Indonesia yang melimpah tak boleh disia-siakan. Manfaatkanlah untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Beberapa tahun terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memperlihatkan tekad mengerahkan seluruh kemampuan agar hasil laut Indonesia benar-benar menguntungkan rakyat. Tidak hanya mengondisikan agar petani/nelayan memaksimalkan upaya agar bisa memanfaatkan kekayaan laut, tetapi kementerian itu juga berupaya menangkal agar laut Indonesia tidak dijarah asing.
Tapi, siapa pun tentu maklum, apa yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak akan maksimal tanpa dukungan, terutama dari segi keamanan. Kita juga maklum, apa yang dapat dilakukan TNI-AL yang diharapkan melakukan pengamanan secara total jika peralatan/senjata tak memadai.
Presiden SBY sepantasnya memberikan perhatian khusus terhadap kekayaan laut, melebihi pendahulunya. Dalam kondisi daratan yang boleh dibilang sudah terkuras, termasuk hutan-hutan yang gundul akibat pembabatan hutan, laut adalah harapan paling menjanjikan.
Ketika pengangguran masih tinggi, kemampuan ekonomi rakyat miskin tidak kunjung berhasil diperbaiki, sangat tepat pemerintah mengalihkan pandangan kepada sumber lain. Bangkitkanlah kejayaan yang pernah diraih nenek moyang negeri ini, menjadikan laut sebagai ladang utama. Ubahlah cara pandang, dari orientasi daratan ke lautan. Jangan biarkan kekayaan laut kita terus-menerus dijarah bangsa lain, pada saat sebagian rakyat diimpit kemiskinan.***
Terkait dengan Hari Nusantara 2011 yang diperingati setiap tanggal 13 Desember, termasuk Selasa (13/12) lalu misalnya, banyak di antara kita tersadar betapa laut luas yang dimiliki dari dulu hingga kini tidak pernah dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, dalam sambutannya pada acara peringatan Hari Nusantara 2011, di Dumai, Riau, Selasa lalu, mengimpikan kebangkitan Indonesia sebagai negara maritim.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dalam sambutan tertulisnya pada acara sama, malah merasa perlu mengingatkan bangsa, tentunya terutama aparat keamanan, untuk tidak membiarkan bangsa lain menguasai dan menikmati kekayaan laut Nusantara. Apa yang dikatakan Cicip dan Purnomo sangat beralasan, sebab laut kita mengandung kekayaan tak terhingga. Bukan hanya ikan, minyak bumi, tapi juga keindahan pantai/lautan yang laku dijual sebagai tujuan wisata.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, di mana 70 persen wilayahnya terdiri dari laut/perairan, adalah aneh jika Indonesia mengimpor ikan dan garam. Itu bukan saja dapat dikatakan penghinaan,karena seharusnya negeri ini memiliki hasil ikan dan garam melimpah,tetapi juga membunuh para petani/nelayan yang masih tradisional.
Karena itu, apa yang disuarakan dua menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu tentang laut Indonesia, seharusnya ditindaklanjuti. Pemerintah, dari Presiden hingga pelaksana di lapangan, harus mendukung penuh dan serius memaksimalkan hasil laut. Kekayaan laut Indonesia yang melimpah tak boleh disia-siakan. Manfaatkanlah untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Beberapa tahun terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memperlihatkan tekad mengerahkan seluruh kemampuan agar hasil laut Indonesia benar-benar menguntungkan rakyat. Tidak hanya mengondisikan agar petani/nelayan memaksimalkan upaya agar bisa memanfaatkan kekayaan laut, tetapi kementerian itu juga berupaya menangkal agar laut Indonesia tidak dijarah asing.
Tapi, siapa pun tentu maklum, apa yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak akan maksimal tanpa dukungan, terutama dari segi keamanan. Kita juga maklum, apa yang dapat dilakukan TNI-AL yang diharapkan melakukan pengamanan secara total jika peralatan/senjata tak memadai.
Presiden SBY sepantasnya memberikan perhatian khusus terhadap kekayaan laut, melebihi pendahulunya. Dalam kondisi daratan yang boleh dibilang sudah terkuras, termasuk hutan-hutan yang gundul akibat pembabatan hutan, laut adalah harapan paling menjanjikan.
Ketika pengangguran masih tinggi, kemampuan ekonomi rakyat miskin tidak kunjung berhasil diperbaiki, sangat tepat pemerintah mengalihkan pandangan kepada sumber lain. Bangkitkanlah kejayaan yang pernah diraih nenek moyang negeri ini, menjadikan laut sebagai ladang utama. Ubahlah cara pandang, dari orientasi daratan ke lautan. Jangan biarkan kekayaan laut kita terus-menerus dijarah bangsa lain, pada saat sebagian rakyat diimpit kemiskinan.***
Categories
perikanan
nelayan pesisir lebak butuh pabrik es
Lebak (ANTARA News) - Nelayan pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten, yang tersebar di sembilan tempat pelelangan ikan hingga kini belum memiliki pabrik es untuk mendukung usaha penangkapan ikan, sehingga mereka terpaksa mendatangkan es dari luar daerah.
"Selama ini kebutuhan es dipasok dari Tangerang agar ikan-ikan bisa bertahan lama," kata Sekertaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lebak Ade Supriyadi di Lebak, Rabu.
Ia mengatakan, nelayan pesisir selatan Lebak setiap hari mendapat pasokan es dari luar daerah sekitar tiga sampai empat truk diesel untuk mengawetkan ikan agar bisa bertahan lama.
Nelayan sangat membutuhkan pasokan es untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan karena saat ini di TPI Binuangeun tidak ada.
Pemerintah daerah dan provinsi diharapkan segera membangun pabrik es, sehingga nelayan tidak mendatangkan dari Tangerang.
Sebab pabrik es, kata dia, saat ini merupakan kebutuhan vital untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan.
"Kami pernah kesulitan untuk mendapatkan es, sehingga terpaksa hasil tangkapan ikan dijual murah," katanya.
Kepala Pendaratan Pangkalan Ikan Kecamatan Wanasalam Hadi mengatakan , selama ini kawasan TPI Binuangeun belum memiliki pabrik es sehingga diharapkan pemerintah dapat membangun pabrik tersebut.
"Kami dan nelayan sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun pabrik es," katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lebak H Edi Wahyudi mengakui selama ini nelayan yang tersebar di sembilan TPI belum memiliki pabrik es.
Pasokan es didatangkan dari Serang dan Tangerang untuk mendinginkan ikan agar bisa bertahan lama.
"Kami saat ini sedang mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membangun pabrik es," ujarnya. (MSR/B013)
"Selama ini kebutuhan es dipasok dari Tangerang agar ikan-ikan bisa bertahan lama," kata Sekertaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lebak Ade Supriyadi di Lebak, Rabu.
Ia mengatakan, nelayan pesisir selatan Lebak setiap hari mendapat pasokan es dari luar daerah sekitar tiga sampai empat truk diesel untuk mengawetkan ikan agar bisa bertahan lama.
Nelayan sangat membutuhkan pasokan es untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan karena saat ini di TPI Binuangeun tidak ada.
Pemerintah daerah dan provinsi diharapkan segera membangun pabrik es, sehingga nelayan tidak mendatangkan dari Tangerang.
Sebab pabrik es, kata dia, saat ini merupakan kebutuhan vital untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan.
"Kami pernah kesulitan untuk mendapatkan es, sehingga terpaksa hasil tangkapan ikan dijual murah," katanya.
Kepala Pendaratan Pangkalan Ikan Kecamatan Wanasalam Hadi mengatakan , selama ini kawasan TPI Binuangeun belum memiliki pabrik es sehingga diharapkan pemerintah dapat membangun pabrik tersebut.
"Kami dan nelayan sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun pabrik es," katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lebak H Edi Wahyudi mengakui selama ini nelayan yang tersebar di sembilan TPI belum memiliki pabrik es.
Pasokan es didatangkan dari Serang dan Tangerang untuk mendinginkan ikan agar bisa bertahan lama.
"Kami saat ini sedang mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membangun pabrik es," ujarnya. (MSR/B013)
Categories
perikanan
Langganan:
Postingan (Atom)