Minggu, 18 Desember 2011

krisis Perikanan Indonesia

Diposkan oleh yuli murniyanti di 01.44
KBR68H - Tiga perempat wilayah Indonesia adalah lautan, tapi Indonesia kini mengimpor ikan. Jumlah ikan berkurang separuhnya dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Pekalongan, Jawa Tengah, pada era 1970an berjaya sebagai pelabuhan ikan terpenting se-Asia Tenggara. Tahun ini, Pekalongan kehilangan sepertiga dari pendapatan tahun lalu di pelelangan ikan. Reporter KBR68H Ikhsan Raharjo datang ke pelelangan ikan yang makin jarang ada di Pekalongan.


Calon pembeli mengajukan penawaran di Tempat Pelelangan Ikan Pekalongan




Pelelangan ikan

Kapal milik Tarmuji baru saja bersandar di pelabuhan Pekalongan, Jawa Tengah. Kapal bermuatan 1 ton ikan ini tengah menurunkan puluhan keranjang berisi ikan. Anak buah kapal tengah membersihkan ikan yang berlumuran lumpur.

Ikan-ikan ini tak terlihat begitu segar, matanya merah. Tarmuji, pemilik kapal bercerita, es di kapalnya keburu habis sebelum kapal sampai ke pelabuhan. Ia melaut selama lebih 3 bulan, lebih lama dari biasanya.

Kapal Tarmuji adalah satu-satunya kapal yang bersandar di Pelabuhan Pekalongan dalam 10 hari terakhir. Begitu kapal tiba, ratusan pembeli langsung berkerumun ke tempat pelelangan ikan.

Tempat pelelangan ikan berada di sebuah bangunan seukuran setengah lapangan bola. Tarmuji jadi satu-satunya pedagang ikan di sana. Keranjang-keranjang ikan itu disusun memanjang. Setiap keranjang berisi 10-30 kilogram ikan dari berbagai jenis. Paling banyak ikan tongkol.

Pemilik kapal menghitung jumlah ikan yang ia dapat hari ini. Seratusan calon pembeli tengah melihat-lihat dan menyeleksi hasil tangkapan yang akan dibeli, sementara pemilik kapal mendata hasil tangkapan berdasarkan berat dan jenis ikan.

Julenah adalah pemilik warung makan kecil di Pekalongan. Ia tengah melihat-lihat ikan yang akan dibelinya. Ikannya jelek-jelek, kata dia. “Kemarin banyak sekali ikannya, kapalnya besar-besar, ikannya bagus-bagus. Sekarang nggak ada. Adanya ikan asin,” keluh Julenah.

Penurunan produksi ikan di Pekalongan sudah dirasakan nelayan sejak awal 2000-an. Rasjo Wibowo yang sudah menjadi nelayan sejak tahun 60-an ikut merasakannya. Saat ini Rasjo tengah menulis buku berjudul ‘Sejarah Perikanan Pekalongan’. Pekalongan sempat jadi pelabuhan dengan produksi ikan terbanyak se-Asia Tenggara. “Kondisi pada waktu tahun 1970, ikan itu ada di depan itu mau tangkap berapa aja bisa. Luar biasa subur sekali. Mulai surut pada 2001-2004 itu fatal sekali.”

Dulu, nelayan lokal Pekalongan bisa mengekspor ikan sampai ke Jepang dan Korea Selatan. Tapi sekarang ekspor harus diambil dari pasokan daerah-daerah lain. Kepala Dinas Perikanan Pekalongan, Widagdo mengatakan,”Sekarang kesulitan bahan baku juga. Kalau dulu di sekitar Pekalongan sekarang didatangkan dari Medan dan Jakarta.”

Tahun lalu, total produksi ikan tangkap di Indonesia mencapai 5 juta ton ikan segar. Tapi, Kota Pekalongan hanya mampu menyumbang tak lebih dari 1 persen.

Kondisi ini berdampak pada kesejahteraan keluarga nelayan. Kristin Satoto adalah istri salah satu nelayan di Pekalongan. Kata Kristin, pendapatan nelayan turun dari tahun ke tahun. “Pembagian hasil tangkapan ikan sampai 1.5 juta ada 1.2 juta. Tapi sekarang boro-boro 500 ribu. Satu bulan 300 ribu aja udah alhamdullillah matur nuwun.”

Kristin tinggal di perkampungan nelayan tak jauh dari Pelabuhan Pekalongan. Di sana kebanyakan nelayan berganti profesi menjadi kuli panggul atau tukang becak. Banyak juga yang menganggur dan tinggal di rumah. Ujung-ujungnya pendidikan anak nelayan yang kena imbasnya. Angka pelajar yang putus sekolah terus bertambah. Mereka harus membantu orang tuanya mencari uang. “Mas, bisa lihat sendiri ini anak-anak ini dulu nelayan semua. Sekarang mereka harus ngamen,” kata Kristin.

Apa yang terjadi di Pekalongan? Mengapa tak ada lagi ikan untuk ditangkap di tempat yang dulunya jadi pelabuhan terpenting se-Asia Tenggara ini?


Ikan-ikan di pelelangan
Surutnya ikan di laut Indonesia



Menurunnya jumlah hasil tangkapan ikan tak hanya terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah. Profesor perikanan dari Institut Pertanian Bogor, Ari Purbayanto, mengatakan terjadi penurunan stok perikanan tangkap di seluruh perairan Indonesia. Ini disebabkan oleh penangkapan ikan yang berlebihan di laut alias overfishing.

“Di beberapa wilayah sudah diberi tanda merah bahkan beberapa kuning. Artinya sudah over eksploitasi dan yang kuning ini fully exploited atau eksploitasi tinggi. Sebagai contoh di Laut Jawa, Selat Makassar, Selat Malaka ini wilayah padat tangkap kemudian sumberdayanya juga sudah terbatas. Sehingga perlu pengelolaan di kemudian hari kalau kita mau melestarikannya.”

Gejala penurunan stok ikan sudah terlihat di Pekalongan. Nelayan kini harus melaut lebih jauh dari perairan Pekalongan. Aktivis perikanan dari LSM lingkungan WWF, Abdullah Habibie. “Nelayan Pekalongan ini dikenal mereka cari ikannya sampai jauh-jauh sampai Samudera Hindia, Laut Indonesia, sebelah barat Sumatera maupun utara Jawa, kemudian Laut Cina Selatan sampai ke perbatasan sana kemudian Laut Arafura. Mereka penjelajah yang sangat terkenal hanya untuk mendapatkan stok ikan.”

Karena nelayan harus melaut lebih jauh, akibatnya kondisi ikan sudah tak segar ketika tiba di tempat pelelangan.

Nelayan senior Pekalongan, Rasjo Wibowo, punya pendapat lain. Ia menduga salah satu penyebab penurunan stok ikan adalah kebiasaan nelayan menjaring ikan yang akan bertelur. “Pikiran nelayan itu bukan bagaimana mendapat uang yang banyak tapi bagaimana mendapatkan ikan yang banyak.Termasuk ikan yang bertelur, justru malah senang dia karena harganya mahal. Mestinya tidak boleh itu yang bertelur itu. Karena satu ikan bertelur bisa dapat berapa juta ekor itu.”


Lalu bagaimana cara menyelamatkan perikanan tangkap Indonesia?

Kebiasaan nelayan menangkap ikan yang bertelur harus diubah, begitu kata nelayan senior Pekalongan, Rasjo Wibowo. “Pada waktu musim ikan bertelur sampai memijah selama 3 bulan, itu kalau bisa nelayan jangan berangkat dulu. Kapal-kapal yang menggunakan jaring seperti purse seine itu tidak boleh berangkat dulu.” Sebagai gantinya, pemerintah mesti memberikan perhatian khusus bagi nelayan, misalnya dengan memberikan kredit atau pekerjaan lainnya.

Ada juga solusi versi pemerintah, yakni menjemput hasil tangkapan nelayan di tengah laut dengan kapal pengangkut. Ini dilakukan agar kesegaran ikan bisa tetap terjaga, tanpa perlu kehabisan es di tengah perjalanan. Kepala Seksi Tata Operasional Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tourhadi. “Kapal pengangkut kita untuk mendampingi dari kapal-kapal penangkap yang sekitar ada 200 kapal. Sehingga nanti dia setiap minggu bisa datang-pergi dengan membawa hasil kapal penangkap dan kapal penangkap itu tidak harus pulang. Jadi ketika bawa kesana dia bisa bawa perbekalan. Yang kedua, kapal pengangkut ini tujuannya untuk peningkatan mutu yang ada di Pekalongan.”

Sementara guru besar perikanan IPB, Ari Purbayanto berpendapat, perlu ada pengurangan jumlah nelayan tangkap di Indonesia. Mereka bisa alih profesi jadi pembudidaya ikan. “Usaha yang perlu dilakukan untuk efisiensi yaitu pengurangan armada. Termasuk pengurangan nelayan untuk dialihkan kepada kegiatan lainnya.” Menurut Ari, pengolahan dan budidaya ikan juga punya potensi besar, dan itu perlu didorong pemerintah.

Industri perikanan juga mesti dipastikan hanya mengambil ikan atau hewan laut dengan cara yang ramah lingkungan. Program ini sudah dijalankan LSM lingkungan WWF dengan nama seafood savers atau penyelamat laut. Industri perikanan yang tidak mengambil ikan secara berlebihan, bakal mendapat sertifikat khusus untuk menjual produk perikanan yang ramah lingkungan.

Keunggulannya, produk seperti ini bakal lebih mudah diekspor ke luar negeri, kata aktivis WWF Abdullah Habibie. “Saat ini ada banyak perusahaan yang menghubungi kami dan mereka sudah mulai mendorong “Pak kami ingin produk yang dijual ke luar negeri ini bisa tersertifikasi.” Mereka adalah perusahaan dalam negeri. Ada lagi supplier dari luar negeri yang menginginkan produk yang tersertifikasi.”


Ikan sudah tak segar karena terlalu lama di perjalanan


Salah satu perusahaan yang bergabung dengan program ini adalah Ranch Market. Supermarket asal Amerika Serikat ini telah mendapat sertifikasi WWF untuk penjualan produk ikan mereka. Pelanggan Ranch Market bisa mendapat penjelasan tentang produk perikanan yang ramah lingkungan. Namun, program ini mandek, kata Juru bicara Ranch Market, Flora Chrisantie. “Tapi nantinya akan dilakukan secara terus menerus. Karena sudah masuk programnya perusahaan. Nanti diatur oleh marketing Ranch Market kapan akan dilakukan educate-nya, kapan akan dilakukan promotionnya.”

Anda pun bisa ikut menyelamatkan isi laut dengan memperhatikan ikan apa yang Anda makan. WWF mengeluarkan buku kecil yang di dalamnya ada daftar ikan yang boleh dimakan serta yang sebaiknya dihindari karena ditangkap dengan cara yang tak ramah lingkungan. “Sekarang konsumen harus cerdas dalam memilih seafood yang akan dimakan karena jenis seafood yang dipilih oleh konsumen memengaruhi nelayan yang menangkapnya. Misalnya, ikan kerapu yang ditangkap di daerah Indonesia barat dan ditangkap dengan cara yang merusak misalnya dengan menggunakan bom langsung kami berikan rekomendasi jangan makan itu. Karena cara menangkapnya sudah merusak nanti di seafood guide kami akan ada info alat tangkap dan area ikan tersebut ditangkap,” kata Abdullah Habibie aktivis WWF.

Kembali ke tempat pelelangan ikan di Pekalongan.

Puluhan orang mengerumuni keranjang ikan tongkol yang tengah dilelang. Setiap orang mengangkat tangan sebagai isyarat menawar harga, sementara juru lelang menyebutkan harga jual ikan tersebut. Sebagian besar ikan tampak tak segar, harganya pun cenderung mahal.

Julenah mengincar ikan tongkol berkualitas tinggi untuk diolah di warung makannya. Tapi ia tak bertahan lama. Harga ikan terlalu tinggi, kata dia.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

perikanan Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting